Daku memang jarang sekali ngeblog, padahal ada banyak banget yang pengen di-share. Tapi terkendala waktu (alasaaaannnnn). Tapi pengalaman melahirkanku harus ditulis cos I want to preserve this as a memory.
So, in a nutshell, my first child; Lana Mikayla Basri, lahir 12 September 2011 di Sibley Memorial Hospital Washington DC, berat 6,9 lbs dan panjang 19 inches.
Beberapa minggu sebelum Lana lahir, saya dan suami rajin mengikuti berbagai child birth classes di RS Holy Cross di Silver Spring, Maryland. Mulai dari Becoming a Father, Yoga, Make Way for Babies, It’s a Baby Now What?!, sampai Breastfeeding Class. Karena kita tinggal di luar negeri sendirian, tanpa orang tua atau helper, jadi kita harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Insya Allah siaaap.
Due date Lana adalah 7 September 2011. Sejak beberapa hari sebelumnya, saya sudah sering merasakan kontraksi, tapi irregular, jadi hany Braxton Hicks aja. Sudah lewat due date, dia ngga nongol juga. Jadilah OB/GYN ku Dr. Bandhana Bajaj yang praktik di Capital Women’s Care, nentuin supaya saya diinduksi. Dan tanggal yang disepakati adalah Senin 12 September 2011.
Semalam sebelumnya saya sudah harus check in di RS Sibley. Meski jauh dari rumah (sekitar 20 miles), kita pilih RS itu karena disitulah dokter saya praktek. Saya dan suami bawa tas buanyak banget, ada kali 4 tas isi baju & makanan plus 2 bantal dan 1 birth ball. Lol mudik lebaran aja kalah. Masuk RS tepat jam 7 malam, langsung diinfus kanan kiri sama suster, dan menyerahkan birth plan. Di US common banget untuk bumil punya birth plan; proses melahirkan yang ideal baginya dan diusahakan dipenuhi oleh pihak RS. Birth plan saya sederhana: berusaha melahirkan senormal dan natural mungkin, tapi kalau ngga kuat sakit, mohon sediakan epidural.
Sekitar jam 20.30, dokter jaga kasih saya Cervidil. Ini adalah obat yang bentuknya kaya tali sepatu, dimasukkan ke vagina. Gunanya untuk melunakkan cerviks untuk memudahkan proses induksi. Jadi ini belom induksi…
Harusnya saya tidur semalaman dengan cervidil itu, dan diinduksi Senin paginya. Tapi entah kenapa beberapa jam kemudian kontraksi saya semakin regular. Mulai dari 5 minutes apart sampai 2 minutes apart. Yang tadinya bukaan 1, tiba2 udah bukaan 3 aja. Susternya juga heran, karena jarang banget bumil jadi kontraksi reguler gara2 cervidil. Sepertinya memang due date saya adalah sekarang. Dan akhirnya suster bilang “Sepertinya kamu bisa melahirkan malam ini juga. Saya akan telpon dokter sekarang juga.”
Kontraksi semakin dekaaat, semakin sakit. Kata dokter, I can have epidural anytime tanpa harus menunggu bukaan 4 atau 5. Saya masih coba tahaaan. Praktik breathing technique yang diajarin di birth class didampingin suami. Tapi kadang loss juga sih karena the pain was unbearable sampai gemeteran. Sekitar tengah malam, I decided to get an epidural. And that was the best decision I made!
Yah meskipun proses epiduralnya juga sakit (tulang punggung disuntik) dan harus pake kateter (cos you can’t feel your lower body), tapi sepadan banget. Ngga lama setelah itu, rasa sakit kontraksinya berkurang perlahan. Dari yang HORRIBLE sampai MILD. Sampai akhirnya saya bisa istirahat dan tertidur. Ngga nyenyak, but at least bisa save energy. Suster bolak balik ngecek. Saya sudah bukaan 5. Dokter Newman datang, just in case saya melahirkan malam itu juga.
KEESOKAN HARINYA…
Jam 7 pagi dokter Bajaj datang dan memeriksa. Dia memastikan saya ngga perlu diinduksi krn labornya was progressingvery well. Haha jadi plan B (induksi) gagal total dan malah back to plan A. And this is even better! Semua prosesnya terjadi di RS dan ngga ngerasain panik di rumah hehe.
Beberapa jam kemudian, bukaan 8. Karena air ketuban belum pecah juga, jadi dokter mecahin pakai amnio hook. I didnt feel anything, thanks to epidural. Fast forward… jam 11 saya bukaan 10 and ready to push, dibantu suami dan suster Lil (dokternya keluar masuk). She was awesome btw. Dia ngajak saya dan suami ngobrol asik banget supaya kita rileks. Ternyata pushing dengan epidural itu challenging ya. Krn tubuh bagian bawah saya mati rasa, saya mengandalkan arahan suster. But I did great (kata nurse dan hubby sih), babynya maju 2 langkah, mundur 1 langkah. Dan I kept on pushing and pushing and pushing for…. 2 hours!! Sampai pada titik dimana kepala babynya nongol!! And I could feel the hair!
Begitu kepala Lana nongol, nurse panggil dokter. And after that hanya 2x pushing, Lana pun keluaaar. Alhamdulillah Lana lahir jam 13.05. Setelah itu rasanya luar biasa banget, sulit deh dijelasin deh. Lana langsung dilap, ditaruh di dada skin to skin selama beberapa menit, terus Lana dibersihin lagi, dites APGAR, dikasih eye ointment, vitamin K, dikasih tag, terus diadzanin suami. Sementara dokter mengeluarkan plasenta dan menjahit. Semua terjadi di ruang yang sama, begitu cepat. Setelah itu Lana dikasih ke saya lagi dan menyusui pun dimulai. Wow she drank like a champ!!
Dan… petualangan mengurus bayi pun dimulai. Waktunya kita mempraktikkan apa yang sudah kita pelajari di child birth classes

Did you know? Di US ngga common untuk membawa pulang plasenta, tidak seperti di Indonesia. Saya sendiri harus request ke dokter, ke RS dan mencantumkannya secara khusus ke dalam birth plan supaya bisa membawa pulang plasenta.




